Slider

Powered by Blogger.
Latest Post
Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

Mendengar, Resep Menguatkan Rumah Tangga [2]

Written By @Adimin on Wednesday, May 6, 2015 | 5:30 PM



Karena berbeda itulah, semestinya berupaya untuk saling memahami

ALANGKAH indahnya, jika kita pun bersikap layaknya Rasulullah Saw dan Khadijah ra. Bukankah rentang waktu pernikahan mereka hingga kerasulan telah menjejak waktu 15 tahun? Namun, jika melihat apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saat mengadu pada istrinya dan apa yang istrinya lakukan, maka kita bisa mengetahui indahnya komunikasi mereka selama 15 tahun.


Indahnya Bicara

Kitapun juga pasti ingin mendapatkan pasangan yang bersedia menjadi teman “curhat” yang mau menyediakan perhatian dan hatinya. Mengapa pasangan yang mau diajak bicara ini penting? Karena, yang tahu persis problem-problem yang terjadi dalam rumah tangga adalah pasangan itu sendiri. Sehingga yang paling tepat untuk melakukan evaluasi plus menyepakati solusi tentu adalah pasangan sendiri. Bukan orang lain yang tidak mengetahui secara pasti masalah yang sesungguhnya dan pastinya bilapun menjadi bagian dari solusi, maka pelaku utama tetap kita sendiri.

Pasangan yang saling terbuka membicarakan keinginan dan kekhawatiran mereka, biasanya akan tumbuh menjadi pasangan yang saling mendukung. Sehingga mereka dapat tumbuh bersama termasuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi mereka berdua dan mengantisipasi hal buruk yang mungkin terjadi.


Mulailah Bicara

Namun demikian, untu jadi pasangan yang tumbuh bersama, semuanya justru diawali oleh perbedaan. Dari mulai beda fisik, beda kebiasaan, bahkan bisa jadi beda pemahaman keislaman. Inilah yang luar biasa bila memperhatikan firman Alah Subhanahu Wata’ala dalam surat Ar-Ruum  [30]: 21, “…supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang.”

Bagaimana mungkin jadi tumbuh rasa kasih sayang kalau begitu berbeda? Karena berbeda itulah, semestinya berupaya untuk saling memahami.

Memahami perbedaan inilah yang akan membuat kita memahami bahwa waktu bicara dengan suami atau waktu bicara dengan istri sangat berbeda. Bicara dengan suami butuh pengertian bahwa mereka butuh waktu untuk dirinya lebih dahulu dan butuh verbalisasi yang jelas. Sehingga istri memang tidak dianjurkan merajuk atau bertele-tele. Sedangkan bicara dengan istri pasti butuh kesabaran untuk membujuk dan mendengarkannya bicara.

Rasa dan upaya untuk bisa mencapai paham inilah yang akan membuahkan kasih sayang. Bila langsung paham tanpa belajar dan mengelola perasaan maka tentu tidak akan ada pengalaman-pengalaman indah yang dapat dikenang. Tidak ada canda atau tangis yang menguatkan perasaan memiliki.  Juga tidak ada hikmah yang dapat diambil bersama dan tidak ada saat-saat manis setelah berselisih paham dan akhirnya berbaikan.
 
Akhirnya, dengan berbekal iman dan kasih sayang, semoga kita termasuk orang yang diridhai Allah dan Rasul-Nya karena berjuang mengikuti sunnah. Sebagaimana Rasulullah menyampaikan berita gembira untuk Khadijah ra, “Aku diperintahkan menyampaikan berita gembira kepada Khadijah berupa rumah dari qashab (mutiara) yang didalamnya tidak ada teriakan keras dan kelelahan


Kartika Ummu Arina

posted by @Adimin

Mendengar, Resep Menguatkan Rumah Tangga [1]

Written By @Adimin on Sunday, May 3, 2015 | 7:27 PM

Mendapatkan pasangan empatik adalah dambaan. Pasangan tak hanya bersedia memberikan “telinganya” untuk mendengarkan, juga memberikan perhatian dan hatinya



SEPERTI tidak ada waktu bersama. Sepulang kantor sang suami langsung mandi, makan, kemudian kembali sibuk dengan hp-nya; entah baca berita, ber-whatsapp atau chatting dengan fasilitas Blackberry Messenger (BBM). Ibunya anak-anak pun terbelit dengan pekerjaan rumah tangga dan aneka permintaan dari ananda. Akhirnya aktivitas hari itupun ditutup dengan alasan yang selalu sama, “ngantuk”.

Rasanya awal pernikahan dulu, pasangan bagaikan teman setia yang selalu menyediakan waktu untuk bicara. Selalu tersedia waktu untuk curhat dan selalu ada teman lucu untuk hunting yang seru. Tapi itu dulu. Sekarang, bisa bicara berdua untuk hal yang penting pun langka. Lebih enak “ngobrol” dengan teman-teman di Whatsapp atau di BBM. Atau, lebih baik tidur setelah seharian berjibaku dengan rutinitas.


Bertindak Membahagiakan

Tentu ini kondisi yang tidak diinginkan oleh siapapun. Mendapatkan pasangan yang simpatik dan empatik tentu adalah dambaan. Pasangan yang tak hanya bersedia memberikan “telinganya” untuk mendengarkan apa yang kita katakan tetapi juga memberikan perhatian dan hatinya untuk bisa membahagiakan. Seperti layaknya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Siti Khadijah yang selalu menjadi teman untuk saling mendengarkan dan membahagiakan.

Mari kita tengok dialog yang terjadi saat Rasulullah menceritakan peristiwa di Gua Hira pada Khadijah ra, “Ketika aku bertemu dengan Khadijah, aku duduk di pahanya dan bersandar padanya. Khadijah kemudian bertanya, ‘Hai Abu Qasim, dimana engkau berada? Sungguh aku telah mengutus orang-orangku untuk mencarimu hingga mereka tiba di Makkah atas, kemudian pulang tanpa membawa hasil.’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam menjawab pertanyaan tersebut dengan menceritakan semua hal yang dialaminya di Gua Hira. Khadijah kemudian berkata, ‘Saudara misanku, bergembiralah dan tegarlah. Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh aku berharap kiranya engkau menjadi Nabi bagi umat ini.’” (Sirah Ibnu Hisyam: 198).

Kita dapat melihat tindakan yang luar biasa dilakukan Khadijah manakala melihat suaminya pulang dalam keadaan bergetar dan menanggung ketakutan. Ia menyediakan dirinya hingga Rasulullah Shallallu ‘Alaihi Wassallam dapat duduk dipangkuannya dan bersandar padanya. Layaknya seorang anak yang merapat pada ibunya saat merasa ketakutan. Kata-kata yang diucapkannya juga menenangkan dan menegaskan kesediaan untuk menjadi pendukung Rasulullah menghadapi hal yang besar. Padahal bila yang mendengar hal tersebut bukan Khadijah ra, maka bukan tak mungkin yang dihadapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah tuduhan mengada-ada atau saran untuk tidak terlalu memikirkannya.

Namun, Khadijah ra memang pendamping pilihan. Ia tidak demikian. Dengan simpatinya yang luar biasa, ia menyediakan dirinya mendengar bahkan memberikan posisi yang nyaman bagi suaminya. Kemudian, dengan empati yang dalam, ia menenangkan, menghibur bahkan memberi dukungan bagi sang suami. Tak hanya sekadar simpati dan empati, Khadijah ra pun bertindak dengan mengkonfirmasi berita yang diterima dari suaminya pada seorang keluarganya, Waraqah bin Naufal, untuk mengukuhkan kebenaran tersebut. Setelah kebenaran itu nyata, Khadijah-lah yang pertama kali mengimani kerasulan suaminya.
 
Ibnu Ishaq menceritakan dalam sirah-nya, “Dengan masuknya Khadijah, Allah Ta’ala meringankan beban Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika beliau mendengar perkataan yang tidak disukainya; baik itu penolakan atau pendustaan yang membuat hatinya sedih, maka Allah Subhanahu Wata’ala menghilangkan kesedihan beliau dengan pulang ke rumah dan menjumpai Khadijah. Khadijah binti Khuwailid menyemangati beliau, meringankan beban beliau, membenarkan beliau, dan memandang remeh tanggapan manusia terhadap beliau

Kartika Ummu Arina

bersambung insyaALLAH . . . . .


posted by @Adimin

Anak yang Dibesarkan dengan Doa

Written By @Adimin on Thursday, April 9, 2015 | 7:40 PM


Kedekatan dengan Penciptanya akan memudahkan semua hal yang dibutuhkan dalam tumbuh kembangnya menjadi manusia yang kelak akan meninggikan kalimat Allah Subhanahu Wata’ala dimuka bumi ini

DINI HARI, seorang anak bangun dengan tubuh yang menggigil. Panas tinggi yang bersarang, membuatnya merengek pada ibunya. Pertama minta diambikan minum, kemudian minta dipijat karena badan bagian belakangnya sakit, kemudian minta dielus-elus kepalanya. Beberapa saat kemudian, deru nafasnya sudah mulai mereda dan matanya mulai mengatup. Si ibu pun mulai terlelap karena kelelahan menjaga buah hatinya yang sedang demam tersebut.

Namun, lagi-lagi balita berumur empat tahun itu terjaga, ia menarik jari ibunya yag masih menempel di kepalanya. Sang ibu pun ikut terjaga, “Ada apa, Nak? Ibu kira kamu sudah tidur.” Balita itu menjawab, “Aku belum bisa tidur, Bu. ‘Kan aku belum berdoa.” Ibunya tersenyum dan menuntun balitanya itu berdoa sebelum tidur. Tak lama, buah hatinya itu kembali terlelap.


Awal Kejayaan Umat

Berdoa mungkin menjadi bagian yang sudah dibiasakan dalam kehidupan anak, bahkan tidak ada taman kanak-kanak muslim yang lupa mengharuskan anak-anak didiknya menghapal doa sehari-hari. Anak-anak kita yang cerdas, begitu cepat menghapal doa sehari-hari yang diajarkan kita di rumah maupun gurunya di sekolah. Namun, betapa banyak anak-anak kita yang juga sangat cepat melafalkan doa tersebut dengan sekadarnya, manakala kita memintanya berdoa ketika hendak melakukan sesuatu. Doa kepada Penciptanya meluncur deras dari mulut mereka laksana hapalan rumus atau perkalian angka, tanpa bekas yang mengakar dalam jiwa mereka.

Padahal doa sejatinya adalah sumsumnya ibadah ummat ini. Begitu pula anak-anak yang kemudian tumbuh menjadi manusia dewasa yang lebih percaya pada apa yang mampu dilakukannya, dibandingkan kuasa Sang Pemilik Semesta untuk menetapkan apapun yang akan terjadi. Termasuk hal yang tidak diharapkan. Meski mereka adalah orang-orang yang mengenal iman sejak usia dini. Maka, berdoa pun kini menjadi hak orang-orang yang dianggap pandai merangkai doa untuk kemudian diamini.

Padahal kejayaan ummat ini berada dalam untaian doa yang dihantarkan ke ‘Arsy tempat Allah Subhanahu Wata’ala bertahta. Ingatlah Rasulullah Saw yang menghiba pada Allah Al-Malik sebelum ia mengarungi peperangan Badar bersama para sahabat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam berdoa, “Ya Allah, jika Engkau membinasakan kelompok ini (para sahabat) pada hari ini, Engkau tidak akan disembah.” Rasulullah terus berdoa hingga Abu Bakar mengingatkan Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wassallam bahwa Allah Subhanahu Wata’ala tidak akan mengingkari janji-Nya. (Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam)

Padahal bagaimana mungkin Rasulullah Saw ragu pada janji Allah Subhanahu Wata’ala? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam pun tak pernah meragukan loyalitas dan kualitas para sahabat dalam menghadapi musuh. Apalagi Rasulullah pun seseorang yang memiliki pengalaman berperang dan fisik yang kuat. Namun, Rasulullah terus berdoa. Kejayaan ummat ini pun terletak pada tersambungnya doa Rasulullah Saw yang demikian khawatir akan kekalahan Kaum Muslimin dan harapnya pada pertolongan Allah Yang Mahaperkasa.

Poin ketakutan akan tak tersambungnya ikhtiar dengan pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala dan besarnya harapan akan janji Allah Subhanahu Wata’ala yang tak pernah diingkari inilah yang semakin memudar dalam jiwa anak-anak kita. Namun, disinilah sejatinya perjuangan yang harus kita tempuh agar kelak kita tak hanya mewariskan anak-anak yang kuat menggenggam dunia tetapi hatinya juga selalu kokoh terikat dengan akhirat.

Anak akan merasa butuh untuk berdoa manakala ia menyadari bahwa ada kekuatan yang Mahakuasa untuk melindunginya dan memberikan yang terbaik padanya, lebih dari dirinya bahkan melebihi apa yang selama ini dilakukan orangtuanya. Alangkah baik untuk mengenalkan anak pada keperkasaan Allah Subhanahu Wata’ala melalui hal-hal yang berada di luar jangkauan manusia untuk mengendalikannya.

Seperti yang terjadi pada suatu sore manakala hujan turun dengan lebatnya diiringi petir yang menyambar-nyambar.  Seorang anak menarik lengan ibunya yang tengah sibuk membereskan apa-apa yang dikhawatirkan terkena bocor. Ibunya dikejutkan oleh kata-kata sang anak, “Ibu, sini dulu. Beldoa dulu yuk sama Allah, supaya lumah (rumah) kita nggak banjil (banjir),” demikianlah celoteh cadel balita mungil itu yang membuat ibunya sejenak terperangah. Betapa ia sibuk membereskan apa-apa yang mampu dijangkaunya tetapi si anak justru mengajaknya memohon pada Robb-nya terlebih dahulu.


Dimulai dari Doa

Menanamkan keyakinan pada anak bahwa ada kekuatan yang Mahaperkasa dibandingkan apa yang manusia mampu lakukan adalah bagian dari menanamkan iman. Bahwa kekuatan manusia justru terletak pada kepasrahannya pada Allah Subhanahu Wata’ala.  Memperlihatkan pada anak bahwa ada hal-hal yang terjadi dengan kekuatan doa, seperti kisah-kisah Rasulullah dalam peperangan, akan menambah keyakinannya bahwa doa untuk memperoleh pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala adalah kebutuhan yang tak dapat ditinggalkan.

Maka, alangkah indahnya, bila kita selalu meyakinkan pada anak bahwa Allah Subhanahu Wata’ala selalu sayang padanya. Kasih sayang Allah Subhanahu Wata’ala lebih besar dari apapun yang mampu dilihat oleh panca indera kita. Karena itu, kita selalu bisa melihat dan merasakan kasih sayang Allah Subhanahu Wata’ala, walau kita tak dapat melihat Allah Subhanahu Wata’ala saat ini.  Pemahaman-pemaham inilah yang akan mendekatkan anak pada Allah Subhanahu Wata’ala, merasa bahwa Allah Subhanahu Wata’ala disisinya dan selalu memperhatikannya.

Kedekatan dengan Pencipta akan memudahkan semua hal yang dibutuhkan dalam tumbuh kembangnya menjadi manusia yang kelak akan meninggikan kalimat Allah Subhanahu Wata’ala dimuka bumi ini. Semakin lekat hati mereka dengan doa-doa yang selalu dipanjatkannya, maka dengan izin-Nya akan semakin lembut hatinya untuk tunduk pada titah-Nya. Hingga kalimat-kalimat-Nya pun akan semakin kokoh mengakar dalam hatinya. Menjadi tolak ukur kebenaran, menjadi kompas kehidupan, dan kelak ia akan benar-benar membaktikan dirinya sebagai orang-orang yang membela agama Allah Subhanahu Wata’ala.

Semua bermula dari doa. Dari ketundukkan hati yang membawanya pada kesalehan dan ketegapan untuk menjadi prajurit Allah SWT. Layaknya generasi saleh diawal bersinarnya Islam, yang berjalan tegap menghadapi berbagai kemusykilan dengan hanya berharap pada pertolongan-Nya saja. Yang gagah menantang para penguasa dunia dengan ketundukkan pada perintah Allah dan Rasul-Nya. Yang meninggikan jiwa karena kebanggaannya menjadi hamba Allah dan bukan karena apa yang digenggamnya.

Semua bermula dari doa. Dari permohonan dan ketakutan tidak dipedulikannya iman dan pengorbanannya oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Maka, alangkah indahnya bila kita pun menjadi contoh bagi anak-anak kita tentang bagaimana memasrahkan diri dalam doa. Meminta bukan karena ingin menjadi mulia dimata manusia, melainkan karena ingin diberi kesempatan untuk melakukan kebaikan dengan apa yang diberi-Nya. Memulai dengan doa, bukan karena ingin berhasil dan diiringi decak kagum manusia, tetapi karena yakin bahwa penentu akhir dari apa yang kita usahkan hanyalah Allah saja.

Maka, marilah memulai dengan doa. Agar anak-anak kita menjadi orang-orang yang saleh dan selalu melakukan apapun dalam payungan doa. Karena, doa kitalah yang akan menuntun hatinya untuk selalu berdoa.

Kartika Ummu Arina


posted by @Adimin

Tidur Lebih Awal Menyehatkan Pikiran

Written By @Adimin on Sunday, December 7, 2014 | 5:41 PM

Mereka yang suka begadang, dengan jangka waktu tidur pendek dan tidur larut malam, dilaporkan mengalami pikiran negatif berulang kali daripada mereka yang punya jadwal tidur teratur.


TIDUR lebih awal dan menjaga jam tidur yang teratur dapat mengurangi pikiran negatif dan kecemasan, menurut penelitian terbaru di Binghamton University (BU) di New York.

Penelitian ini melibatkan 100 mahasiswa BU yang diminta untuk mengisi beberapa kuesioner dan melakukan dua tugas komputerisasi untuk menilai tingkat berpikir negatif mereka yang terus muncul berulang, dengan mengukur tingkat kecemasan, pikiran, dan obsesi.

Mereka juga diminta untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan kebiasaan tidur, jam berapa, apakah dilakukan teratur, atau kebiasaan itu bergantung pada saat ujian dan kegiatan sosial.

Mereka yang menggambarkan diri sebagai manusia suka begadang, dengan jangka waktu tidur pendek dan tidur larut malam, dilaporkan mengalami pikiran negatif berulang kali daripada mereka yang punya jadwal tidur teratur dan masa tidur yang lebih panjang, kata para peneliti.

Temuan mereka juga menunjukkan, pikiran negatif yang berulang terkait dengan kurangnya tidur. Persoalan ini dapat berisiko terkena gangguan kesehatan mental.

“Jika temuan lebih lanjut mendukung hubungan antara waktu tidur dan berpikir negatif yang berulang, bisa dijadikan langkah pengobatan bagi individu yang mengalami gangguan internal,” kata seorang peneliti, Meredith Coles.

Inspirasi melakukan penelitian ini berawal dari hubungan antara masalah tidur dan kesehatan mental, baik kecil dan besar, menurut para peneliti.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Cognitive Therapy and Research dan dimuat di New York Daily News, Jumat (5/12/2014)


posted by @Adimin

Tak Bolehkah Kita Semulia Asiyah?

Written By @Adimin on Tuesday, November 4, 2014 | 4:00 PM


Padang pasir itu begitu panas. Membuat Al A’masyi yang menemani Harun Ar Rasyid pergi berburu menjadi sangat kehausan. Menteri itu pun menoleh ke kanan dan ke kiri, barangkali ada orang yang bisa memberinya air.

Pandangan Al Ma’masyi berhenti pada sebuah kemah. Ya, ada kemah di padang pasir ini. Ia pun bergegas ke sana. Ternyata kemah itu dihuni oleh seorang wanita cantik yang mempesona.

Melihat ada tamu yang datang, wanita itu mempersilakannya untuk duduk agak jauh darinya.

“Aku Al A’masyi, menterinya Harun Ar Rasyid. Bolehkah aku minta air?” kata Al A’masyi memberitahukan keperluannya.

“Maaf, suamiku melarangku memberikan air kepada orang lain,” jawab wanita itu membuat Al A’masyi yang tadinya berharap segera terbebas dari kehausan merasa harus menahan sabar. Muncul pertanyaan dalam dirinya, mengapa suami wanita ini melarangnya menolong orang lain.

“Tapi aku punya jatah makan pagi, berupa susu yang belum kuminum. Ambillah untukmu,” lanjut wanita itu.

Al A’masyi bersyukur sekaligus kagum dengan kemuliaan wanita tersebut.

Tak berselang lama, wajah wanita itu tampak berubah. Rupanya ada sebuah titik hitam mendekat. Makin lama makin tampak, seorang laki-laki di atas untanya berjalan ke arah kemah itu.

“Itu suamiku,” kata wanita tersebut sambil bergegas menghampiri suaminya. Ia membantu lelaki tua, hitam dan jelek itu turun dari ontanya, serta mencuci tangan dan kakinya. Laki-laki itu kemudian masuk ke dalam kemah tanpa mempedulikan dan menyapa Al A’masyi. Dari dalam kemah, terdengar laki-laki itu berkata buruk kepada istrinya.

“Aku kasihan kepadamu,” kata Al A’masyi kepada wanita itu, sebelum ia berpamitan. “Engkau ini masih muda, cantik, berakhlak mulia, tetapi bergantung kepada suami tua, hitam dan buruk akhlaknya. Mengapa kamu bergantung kepadanya? Apakah karena hartanya? Padahal ia miskin. Apakah karena ketampanannya? Padahal ia hitam dan jelek. Apakah karena akhlaknya? Padahal akhlaknya buruk”

“Aku justru kasihan kepadamu wahai Al A’masyi,” jawab wanita itu dengan tegas.

“Bagaimana mungkin Harun Ar Rasyid punya menteri yang berusaha menjauhkan seorang muslimah dari suaminya. Ketahuilah, iman itu separuhnya adalah syukur dan separuhnya adalah sabar. Aku bersyukur karena Allah membimbingku dengan Islam dan memberiku kecantikan. Dan kini aku belajar bersabar dengan suami seperti yang engkau sebutkan.”

Al A’masyi tak bisa berkata apa-apa. Sungguh mengagumkan wanita itu. Allah telah memuliakan akhlaknya sebagaimana Dia telah mempercantik wajahnya.

Sebagaimana keseluruhan hidup ini, pernikahan juga ujian. Istri atau suami yang telah menikah dengan kita, kadang kita dapati tidak sesuai dengan mimpi-mimpi indah kita. Allah telah memberikan banyak contoh. Ada pasangan ideal seperti Adam dan Hawa, Ibrahim dan Sarah, atau Muhammad dan Khadijah. Namun Allah juga memberikan contoh sejarah, ada Nuh dan istrinya. Ada Fir’aun dan suaminya.

Sungguh membahagiakan jika suami dan istri kita adalah sosok ideal yang kita harapkan. Tetapi jika kita telah menikah dan suami atau istri kita tak seideal yang kita harapkan, kebahagiaan itu ada pada sikap kita. Ada nasehat bijak mengatakan, jika suami kita tak seburuk Fir’aun, tidak bolehkah kita menjadi perempuan semulia Asiyah?


posted by @Adimin

Keshalihan Para Pemuda dan Kesadaran Orang Tua

Written By @Adimin on Monday, November 3, 2014 | 3:14 PM


Alangkah menyedihkan bila menyaksikan anak muda yang menghabiskan waktunya untuk hura-hura atau bermain tak tentu arah.

Tapi lebih menyedihkan lagi bila melihat orang tua menghabiskan sisa umurnya untuk main gaple atau domino di warung kopi.

Bertambah lagi kesedihan, bila sudah tua tapi masih merasa muda, angan-angan masih panjang, ketamakan terhadap dunia semakin menjadi-jadi, dan syahwat masih menggebu.

Tidak cukupkah uban bertabur di kepala, gigi satu persatu mulai rontok, pandangan yang sudah tidak terang lagi, pendengaran yang tidak nyaring lagi, kulit yang sudah keriput, tulang yang sudah keropos, tenaga yang sudah melemah, penyakit yang sudah komplek, selera yang sudah berkurang, bilangan usia yang sudah semakin banyak, sebagai operator pengingat yang mengatakan:

“Maaf, pulsa hidup anda sudah hampir habis, tidak ada lagi kesempatan untuk isi ulang, beberapa saat lagi umur anda akan berakhir, harap siap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke akhirat”.

Tua itu adalah kesempatan emas untuk bertaubat.
Tua itu adalah nikmat tersendiri untuk memperbaiki diri.
Tua itu karunia tidak terhingga untuk persiapan menuju akhirat.
Betapa banyak anak muda yang tidak sempat mencicipi masa tua, mereka mati ketika asyik dengan dunia.

Rasulullah bersabda: “Siapa yang umurnya sudah sampai 40 tahun, tapi kebaikannya belum mengungguli kejahatannya, berarti ia sudah mempersiapkan kapling untuk dirinya di dalam neraka”.

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyu’ mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan kepada mereka….? (Al Hadid: 16)

Kelak orang tua yang lupa diri akan dicela…
“….Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat perpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan?…..” (Fathir: 37)

Ya Allah, karuniakan lah keshalehan kepada pemuda kami dan kesadaran kepada orang-orang tua kami.


posted by @Adimin

Kisah Orangtua yang Mendurhakai Anaknya

Written By @Adimin on Thursday, October 9, 2014 | 9:21 PM



Datanglah kala itu seseorang bersama anaknya kepada Umar bin Khaththab. Dengan segera, sesaat selepas bertemu, ia mengadukan perihal anaknya, “Wahai Umar, anakku ini telah berlaku durhaka kepadaku.”

Guna mengetahui duduk persoalannya, anak al-Khaththab ini bertanya kepada sang anak, “Apakah engkau tidak takut kepada Allah Swt karena telah durhaka kepada bapakmu, hai anak muda?” Umar menerangkan bahwa berbakti kepada orangtua adalah hak yang layak diterimanya karena mereka telah mengurus sang anak.

Sang anak yang merasa dituduh itu menukasi, “Wahai Amirul Mukminin,” katanya sebagaimana disebutkan dalam Tanbihul Ghafilin yang dikutip oleh Ahmad al-Habsi dalam buku Ada Surga di Rumahmu, Mukjizat Orangtua Sempurnakan Suksesmu. Lanjut anak itu, “Bukankah anak juga memiliki hak atas orangtuanya?”

Sosok yang terkenal dengan al-Faruq (Pembeda antara yang baik dan buruk) itu menjawab singkat, “Kamu benar.” Anak itu lantas melanjutkan, “Apa sajakah hak-hak anak atas orangtuanya itu, wahai Amirul Mukminin?”

Sahabat yang sekaligus menantu Rasulullah Saw ini pun menjelaskan. Bahwa hak anak atas orang tuanya adalah dipilihkan ibu yang baik baginya, diberikan nama yang bagus dan diajarkan al-Qur’an kepadanya.

Tepat seketika setelah Umar menerangkan, sang anak sudah menyiapkan jawabannya, lugas. Kata anak itu, “Demi Allah, ayahku tidak memilihkan ibu yang baik untukku,” lanjutnya, “Ibuku adalah seorang budak yang dibeli di pasar dengan harga 400 dirham.” Berarti, hak pertama yang disampaikan oleh Umar, telah dilanggar oleh ayahnya.

Tentang hak bahwa anak berhak diberikan nama yang baik, ia melanjutkan pembelaannya, “Ia juga tidak memberikan nama yang baik kepadaku. Dia menamaiku Ju’al.” Makna dari Ju’al adalah sejenis kumbang yang hidupnya akrab dengan kotoran hewan. Aduhai, malangnya sang anak ini.

Kemudian, tentang hak ketiganya, ia memungkasi lirih, “Dia juga tidak mengajarkan al-Qur’an kepadaku, kecuali satu ayat saja.” Akhirnya, semuanya jelas sudah.

Selepas pengakuan sang anak, Umar langsung menoleh kepada sang ayah, kemudian menyampaikan, agak keras, “Kau bilang anakmu telah mendurhakaimu?!” Hentinya sesaat, lantas melanjutkan, “Padahal, kau telah mendurhakai anakmu sebelum ia mendurhakaimu.”

Bagi seorang anak, kisah ini adalah sebuah pengingat. Bahwa kelak, ia juga akan menjadi orangtua. Maka, belajar amatlah penting agar tak tergelincir karena ketiadaan ilmu. Dengan adanya ilmu, bahagia adalah jaminan bagi seorang individu. Tentu, ini juga bukan sebuah “tiket” bagi anak untuk menggugat orangtuanya. Sebab bisa jadi, banyak orangtua yang tidak mengetahui, sehingga perlu diingatkan.
 
Bagi para orangtua, inilah ajaran yang mesti diamalkan sebelum menuntut apa pun dari anak-anak kita. Sebab, alangkah meruginya ketika dalam hisab kelak kita mengadu kepada Allah Swt bahwa anak-anak telah mendurhakai kita, sementara ternyata, kita sudah terlebih dahulu mendurhakai anak-anak kita itu



posted by @Adimin

Wahai Ayah, Bermainlah Bersama Anak-Anakmu

Written By @Adimin on Thursday, September 4, 2014 | 9:37 PM


Rasulullah di tengah kesibukannya memimpin umat masih menyempatkan waktu untuk bermain bersama anak-anak 

SEORANG ayah memang memiliki tanggung jawab nafkah bagi keluarga, sehingga wajar jika umumnya para ayah sangat sedikit memiliki waktu di rumah. Apalagi yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan lainnya. Tentu selain sedikit, mungkin kondisi fisik kala di rumah sudah sangat lelah.

Namun demikian, seorang ayah tidak boleh terbawa keadaan. Ada satu kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan yang dipesankan Nabi Muhammad Shallallahu Alayhi Wasallam, terutama ketika anak-anak masih balita. Yakni bermain bersama anak-anak.

Sekalipun terkesan sederhana, jika tidak disadari dengan baik, seorang ayah akan sangat kecil kemungkinan mengagendakan waktunya bermain bersama anak-anak. Padahal, bermain bersama anak-anak, terutama kala balita sangat baik untuk menguatkan hubungan bathin antara ayah dan anak.

Tauladan Rasulullah

Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam sendiri di tengah kesibukannya memimpin umat masih menyempatkan waktu untuk bermain bersama anak-anak.

Suatu riwayat menyebutkanRasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam menyuruh Abdullah, Ubaidillah, dan lain-lain dari putra-putra pamannya Al-Abbas Radhiyallahu anhu, untuk berbaris lalu berkata, “Siapa yang terlebih dahulu sampai kepadaku akan aku beri sesuatu (hadiah).” 

Anak-anak itu pun bergegas berlomba-lomba menuju beliau, kemudian duduk di pangkuan Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam, lalu Rasulullah menciumi mereka dan memeluknya.

Dengan demikian para ayah jangan sampai tidak mengagendakan waktunya untuk bermain bersama putra-putrinya. Tidak mesti ke taman bermain sebagaimana umumnya orang melakukannya. Cukup di rumah saja; dengan bermain kuda-kudaan, kejar-kejaran atau pun sekedar berjalan-jalan di sekitar rumah sambil mengenalkan anak pada lingkungan sekitar.

Mengubah Emosi

Selain itu, bermain bersama anak bisa mengubah emosi anak. Misalnya, seorang anak marah karena mainannya dipinjam oleh adik atau kakaknya. Kemudian dia menjadi rewel dan mencari perhatian. Dalam kondisi itu bermain bisa membuat emosi anak berubah seketika.

Ajak saja anak untuk berlari-lari, atau bersama anak masuk dalam selimut untuk menutup badan bersama. Atau dengan bermain apa yang disukai sang anak, insya Allah anak akan segera terpancing untuk ikut bermain dan merelakan apa yang sebelumnya membuatnya tidak nyaman.

Tidak Monoton

Seorang ayah yang memiliki kebiasaan bermain dengan anak-anaknya akan memiliki kemampuan komunikasi yang luwes, sesuai dengan tabiat anak-anak. Tidak kaku sebagaimana orang dewasa. Hal ini tentu akan sangat menyenangkan hati anak-anak.

Seperti yang Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam lakukan ketika memanggil Anas bin Malik Radhiyallahu anhu. “Nabi Shallallahu Alayhi Wasallam memanggilku : ‘Wahai pemilik dua telinga’ (HR Ahmad dalam al-Musnad 3/127, Abu Dawud dalam sunannya no. 4994, at-Tirmidzi dalam sunannya no. 2059).

Di sini tentu sangat menarik apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam. Bagaimana cara beliau bermin-main dengan bercanda dengan memanggil Anas dengan sebutan ‘pemilik dua telinga.’

Tentu panggilan semacam itu sangat aneh dan mengundang kelucuan, sebab bagaimana mungkin Anas tidak memiliki dua telinga.

Namun, kala dewasa ternyata dari candaan ringan itu Anas Radhiyallahu Anhu benar-benar mampu menggunakan telinganya sebagai alat penerima pesan penting dari apa yang Rasulullah ucapkan. Jadi, tidak heran jika Anas menjadi sahabat yang termasuk banyak meriwayatkan hadits.

Jika para ayah mau meluangkan waktu bermain bersama anak-anaknya, insya Allah anak-anak tidak akan merasa ‘gerah’ apalagi sampai tidak betah berada di rumah. Ia akan senang dan nyaman di rumah bersama ayah yang suka mengajaknya bermain.

Dan, dalam kondisi seperti itu, insya Allah anak lebih siap mendengar nasehat dan lebih bisa merasuk dalam qalbunya. Seperti yang Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam teladankan kepada Anas Radhiyallahu Anhu. Jika demikian, kenapa tidak kita lakukan? 

Wallahu A’lam.*

Imam Nawawi

posted by @Adimin

Mencipta Sekolah Kehidupan

Written By @Adimin on Friday, May 9, 2014 | 9:40 PM


“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.”
(QS Al ‘Alaq: 1-3).

 
Pendaftaran masuk sekolah sudah dimulai. Jika Anda termasuk orang tua yang sempat harap-harap cemas dengan sekolah baru anak Anda, buku Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela karya Tetsuko Kuroyanagi rasanya penting dibaca. Saya sendiri merasa perlu menghadiahkan buku tersebut kepada sahabat saya yang menjadi guru.
SD Tomoe, sekolah yang dikisahkan dalam buku tersebut, bangunannya tak meyakinkan. Seluruh gedung kelas terbuat dari bangkai gerbong kereta api. Tak ada muridnya yang menjadi juara lomba antarsekolah. Tak ada medali emas karena juara olimpiade sains. Usia sekolah inipun tak lama—bangunannya musnah saat jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki (1945). Namun, situasi belajar yang menarik dan menyenangkan di sekolah tersebut mempunyai pengaruh luar biasa bagi para alumninya. Dengan gaya kisahan yang ringan, buku tersebut mampu menggambarkan filosofi seperti apa sesungguhnya “sekolah bermutu.” Walhasil, buku yang laris (best seller) di Jepang ini bisa mengubah cara pandang terhadap pendidikan buah hati kita. Tidak ada yang perlu diratapi atas kegagalan UN dan masuk sekolah (atau kelas) favorit. Bahkan, kita perlu waspada dengan sistem pendidikan saat ini yang bisa jadi malah membodohi dan mengancam masa depan buah hati kita.

Kenyamanan

Pada 2003, Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pernah mengadakan survei internasional—dengan tes yang disebut PISA—untuk mengukur kemampuan siswa di bidang sains, membaca, dan juga matematika. Hasilnya, Finlandia ditetapkan sebagai peringkat pertama dunia dalam kualitas pendidikan.

Bagaimana sistem pendidikan Finlandia? Finlandia tidak membebani siswanya dengan tambahan jam-jam belajar, memberi PR tambahan, menerapkan disiplin ala tentara, atau menteror siswa dengan tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia agak lambat, pada usia 7 tahun. Jam sekolah merekapun hanya sedikit, 30 jam per minggu. Siswa diajar mengevaluasi dirinya sendiri. Mereka belajar bertanggung jawab. Rasa tanggung jawab itu membuat mereka lebih bebas untuk maju. Guru tinggal memotivasi, tidak harus selalu mengontrol mereka. Minimnya rasa tertekan inilah yang memungkinkan belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan dan dinamis.

Beban kurikulum yang terlalu besar adalah perkara yang merisaukan dalam pendidikan di Indonesia. Ketetapan passing grade untuk kelulusan, membuat semua sekolah dihantui rasa takut kalau tidak dapat melampauinya. Demi target lulus, sekolah lebih mirip bimbingan belajar. Ada tambahan waktu untuk mengerjakan soal-soal. Selalu ada PR yang dibawa siswa ke rumah. Tak cukup itu, sebagian besar anak masih harus ikut les di luar sekolah. Lacur, siswa laksana mesin robot penghafal dan penghitung par excellence!

Seto Mulyadi (Ketua Komnas Perlindungan Anak) dan Neno Warisman (da’iyah, mantan artis) adalah sebagian orang tua yang menyadari kelemahan sistem pendidikan kita. Sebagaimana Seto, Neno Warisman menarik anaknya dari sekolah formal. Menurutnya, sesuai fitrah otak mau belajar kalau ada perasaan nyaman. Bismillah, ia mengajari sendiri anaknya di rumah.

Apa yang dilakukan oleh Neno Warisman kita kenal saat sebagai ‘sekolah rumah’ (home schooling). Sekolah alternatif—yang saat ini telah diakui legalitasnya--ini mengingatkan kita pada Ki Hajar Dewantara. Jika kita tilik sejarah Ki Hajar Dewantara, tidak ada anak-anaknya mengikuti sekolah Belanda. Mereka belajar sendiri di rumah. Ini juga dilakukan oleh Haji Agus Salim. Bimbingan tersebut mengantarkan sukses seluruh anaknya. Di luar negeri kisah serupa juga kita dapati pada Bill Gates (pemilik Microsoft) dan Thomas Alfa Edison. Mereka tidak belajar di sekolah formal. Mereka banyak sekali melakukan eksperimen di rumahnya. Sukses besar pun dapat diraih dua orang tersebut.

Pemahaman

Salah satu hak anak yang harus dipenuhi oleh orangtuanya ialah memberikan pendidikan yang baik. Abul Hasan meriwayatkan bahwa suatu hari seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad saw.: ”Ya Rasulullah, apakah hak anakku terhadap diriku?” Rasulullah menjawab, ”Engkau baguskan nama dan pendidikannya, kemudian engkau tempatkan (pelihara) ia di tempat yang baik.”

Pendidikan yang baik tentunya tidak bisa disederhanakan dengan nilai rangking atau kelulusan UN dari sekolah favorit. Sahabat Rasulullah sendiri, tidak ada yang mengenyam sekolah formal. Tetapi, lewat didikan akhlak Rasulullah, mereka menjadi orang-orang yang mempunyai prestasi raksasa dalam sejarah.

Yang harus kita sadari, banyak sekali masalah kehidupan yang tidak ditemui dalam pelajaran berhitung dan hafalan di sekolah. Berhitung dan menghafal hanyalah sebagian kecil dari cara melatih berfikir sistematis. Fungsi utama sekolah semestinya adalah membentuk pola fikir dan perilaku positif anak-anak. Inilah yang kemudian akan membuat anak didik siap menjawab masalah dalam kehidupan nyata. Inilah yang dalam bahasa Al Qur’an, pendidikan itu diartikan sebagai sarana mensucikan diri. “Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.”(QS Al Baqarah: 151)

Mensucikan diri sama artinya dengan tumbuhnya perilaku positif dalam belajar. Belajar bukan diniatkan untuk sekadar mendapat angka tinggi dalam rapor. Belajar adalah aktivitas mulia untuk meraih derajat tinggi di sisi Allah dan memberi manfaat kepada sesama. Pengertian inilah yang kemudian secara otomatis memotivasi anak didik untuk terus belajar. Inilah yang mengarahkan anak didik pada kepahaman.

Islam sendiri menempatkan derajat orang yang mengerti dan memahami (“faqih”) lebih tinggi dari pada orang yang menghafal (“hafizh”). Pada kurun terbaik dalam Islam—yaitu pada tiga abad pertama Islam—kedudukan dan kepeloporan berada di tangan para faqih, sedangkan pada masa-masa kemunduran, kedudukan dan kepeloporan itu ada pada para hafizh.

Tentu bukan berarti hafalan itu tidak perlu.. Namun, kita penting memahami bahwa hafalan hanyalah sebagai gudang data dan ilmu pengetahuan; untuk kemudian dimanfaatkan. Menghafal bukanlah tujuan itu sendiri, tetapi ia adalah sarana untuk mencapai tujuan yang lain. Apalagi saat ini, gudang data itu banyak digantikan oleh kaset/ disket—atau program penyimpan data digital lain yang saat ini begitu mudah didapat dan dipakai. Menurut Yusuf Qardhawi, kesalahan yang banyak dilakukan oleh kaum Muslimin saat ini adalah perhatian mereka kepada hafalan yang lebih tinggi daripada pemahaman. Sampai tingkat tertentu, menurut Qardhawi, ini menjadi persoalan yang sangat memalukan dalam dunia pendidikan di negeri-negeri Muslim. Sistem pendidikan itu kebanyakan didasarkan pada hafalan dan ”kebisuan,” serta tidak didasarkan pada pemahaman dan pencernaan. Kalau apa yang mereka pelajari didasarkan atas pemahaman dan contoh yang nyata, maka hal itu akan masuk kedalam otak mereka dan tidak mudah hilang dari ingatan. (Yusuf Qardhawi, Fiqh Aulawiyat).

Jadi, tak perlu ada yang dirisaukan bila anak kita tidak berada di sekolah favorit. Yang penting dilakukan adalah mengimbangi ketimpangan dalam sistem pendidikan negeri ini dengan pendidikan sebenarnya di rumah. Rumah dan keluarga adalah sekolah informal penentu sukses sejati. Orang tualah guru besarnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.: "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya nasrani, yahudi, atau majusi.” (HR. Bukhari). Dalam bahasa kita saat ini, orang tualah pemberi saham terbesar sebagai penentu sukses hidup seseorang. 

Kholid

posted by @Adimin

Memperlakukan Anak Perempuan

Written By @Adimin on Sunday, April 27, 2014 | 7:31 PM


Selain sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan, anak merupakan karunia dan hibah dari Allah SWT sebagai penyejuk pandangan mata, kebanggaan orang tua, dan sekaligus sebagai perhiasan dunia, serta belahan jiwa (QS al-Kahfi [18]: 46).

Karena itu, perlakukan anak dengan penuh cinta dan kasih sayang, lebih-lebih bagi anak perempuan. Terkait anak perempuan, secara khusus Rasulullah SAW melarang memperlakukannya dengan kasar.

Dari Uqbah bin Amir berkata Rasulullah SAW pernah bersabda, “Janganlah kalian memperlakukan anak-anak perempuan dengan kasar, karena sesungguhnya mereka adalah manusia yang berpembawaan lembut lagi peka perasaannya.” (HR Ahmad).

Hadis di atas menuntun kita, para orang tua, untuk mendidik anak-anak perempuan dengan baik dan bijak, serta tidak memperlakukannya dengan kasar. Sebab, perlakuan kasar dapat memicu rasa sakit hati dan dendam yang tidak mudah hilang dari ingatannya.

Bagaimana jika anak perempuan itu melakukan perbuatan yang menjengkelkan? Orang tua hendaknya dapat meluruskannya dengan baik dan bijak. Karena perlakuan kasar itu tidak dapat menyelesaikan masalah. Alih-alih meluruskan kesalahan anak, orang tua malah dijauhi.

Oleh karena itu, hindarkan tindakan menuduh, berburuk sangka, dan bermuka masam terhadap anak perempuan. Perlakukan anak perempuan dengan kelembutan dan kasih sayang.

Dan, sungguh beruntung orang tua yang dikaruniai anak perempuan dan ia dapat memperlakukannya dengan baik, bijak, dan penuh kesabaran. Maka, baginya balasan kemuliaan, yaitu surga. Subhanallah.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan, lalu bersikap sabar terhadap keluh-kesah, suka-duka, dan jerih-payah mengasuh (mendidik) mereka, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga berkat kasih sayangnya kepada mereka.

Dalam hadis yang lain, “Barang siapa mempunyai tiga orang anak perempuan atau tiga saudara perempuan, dua orang anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu ia memperlakukan mereka dengan baik dan bertakwa kepada Allah dalam mengasuh mereka, maka baginya surga.” (HR Tirmidzi).

Hadis lainnya, “Barang siapa menanggung tiga anak perempuan, lalu mendidiknya, menikahkannya, dan memperlakukannya dengan baik, maka baginya surga.” (HR Abu Dawud).

Semoga Allah mengaruniai kita, para orang tua, tambahan kesabaran dan ketakwaan dalam mendidik anak-anak, terutama anak perempuan dengan penuh cinta, kasih sayang, dan tanggung jawab. Aamiin.

Oleh: Hj Siti Mahmudah

Rol 

posted by @Adimin

Sayangi Anak Kita


Dalam hadis riwayat Imam Muslim, ada seseorang wanita yang datang kepada Aisyah. Lalu, Aisyah memberikan tiga buah kurma. Wanita itu kemudian memberikannya kepada setiap anak satu buah kurma dan satu kurma tinggal di tangannya.

Dua anak kecil sudah memakan dua buah kurma itu dan memandang pada ibunya. Si ibu lalu membelah yang satu kurma itu menjadi dua dan memberikan kepada kedua anak itu masing-masing separuh. Setelah Nabi Muhammad datang, Aisyah mengabarkan tentang kejadian itu.

Beliau lalu berkata, “Apa yang membuatmu takjub dengan kejadian itu, sungguh Allah telah memberi rahmat-Nya kepada si ibu itu atas kasih sayangnya kepada kedua anak kecil itu.'' (HR Imam Muslim).

Dalam kisah lain, seorang Arab Badui pernah bertanya kepada Nabi, ’’Apakah Anda mencium anak laki-laki? Kami tidak pernah mencium anak laki-laki.”  Nabi SAW bersabda, ’’Aku tak dapat berbuat apa-apa terhadap kamu jika Allah mencabut kasih sayang dari hatimu.” (HR Imam Al-Bukhari).

Aqra bin Habis pernah melihat Nabi sedang menciumi Al-Hasan. Aqra berkata, “Sesungguhnya, aku mempunyai sepuluh orang anak, tetapi aku belum pernah mencium seorangpun di antara mereka!”

Lalu Rasulullah SAW bersabda,’’Barang siapa tidak menyayangi, dia tidak akan disayangi.'' (HR Imam Muslim). Kasih sayang Rasulullah SAW kepada anak kecil selain senang menciumi mereka maka beliau juga seneng memangku anak-anak kecil.

Usamah bin Zaid mengungkapkan, Rasulullah SAW pernah mendudukkan seorang anak di atas salah satu pahanya dan mendudukkan al-Hasan di atas pahanya yang lain. Lalu, Rasul memeluk mereka berdua lalu berdoa, “Ya Allah! Sayangilah kedua anak ini, karena saya menyayangi keduanya.’’

Makna  hadis di atas paling tidak ada empat perilaku model dalam memberikan kasih sayang yang diajarkan dalam Islam kepada anak-anak yang masih kecil. Pertama, memberikan makanan ringan yang dia sukai seperti permen.

Membagi makanan-makanan itu dengan adil kepada anak-anak jika lebih dari satu dan jangan ada yang lebih banyak dibandingkan dengan yang lain sebab akan menimbulkan iri hati kepada yang lain. Kedua, memberikan ciuman sebagai bentuk kasih sayang.

Ketiga, memangku anak-anak dan dan keempat meletakkan mereka di atas pundak. Cara-cara di atas merupakan gambaran bagaimana memperlakukan anak-anak supaya tumbuh dengan baik dalam hal kecerdasan yakni kecerdasan emosional dan spiritual.

Kasih sayang terhadap anak akan memengaruhi perilaku dan karakternya. Tentu hasilnya akan berbeda jika yang muncul adalah kekerasan terhadap anak.

posted by @Adimin

Daripada Lihat Komedi, lebih Berkah Bercanda Bersama Istri

Written By @Adimin on Sunday, February 2, 2014 | 9:11 PM

 

BELAKANGAN ini fenomena keretakan rumah tangga hampir sering sekali terjadi. Tidak saja dari kalangan masyarakat biasa, tetapi juga selebriti dan pejabat. Hal ini menunjukkan bahwa ada titik atau potensi ketidakharmonisan dalam rumah tangga yang gagal dibenahi secara tepat.

Sangat tidak lucu jika ketidakharmonisan rumah tangga juga dialami keluarga Muslim. Bukankah Rasulullah adalah seorang suami yang terdapat banyak sekali teladan yang bisa menjadi solusi dari problem kerumahtanggaan keluarga Muslim?

Firman Allah mengatakan;
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik.” (QS: al-Ahzab [33]: 21)

Secara maknawi tidak hanya terletak pada aspek ibadah secara formal, tetapi melingkupi seluruh sisi kehidupan beliau, termasuk dalam hal kerumahtanggaan.

Sebagai suami Rasulullah tidak pernah menomorduakan istrinya dengan apa pun. Ketika di dalam rumah maka beliau akan menyibukkan diri bersama istrinya. Mulai dari makan sepiring berdua, saling menyisir rambut, bersenda guraru berdua dan bahkan mandi bersama.

Berbeda dengan kebanyakan suami saat ini. Dengan dalih pekerjaan, seorang suami masih asyik dengan gadgetnya ketika di dalam rumah. Bahkan, selepas kerja, untuk mengusir penat seharian karena pekerjaan tidak sedikit suami yang melihat televisi hanya untuk melihat komedi. Hampir tidak ada perhatian yang memadai terhadap istri, apalagi interaksi yang menyenangkan hati.

Bercandalah dengan Istri

Sebagai seorang Muslim yang juga memiliki istri, maka tidak sepatutnya seorang suami menghabiskan waktunya kala di dalam rumah tidak dalam rangka membina hubugan bermutu antara suami dan istri.

Rasulullah adalah contoh terbaik untuk diteladani para suami. Beliau meskipun sibuk mengurusi kepentingan umat, kala di dalam rumah bersama istri beliau tampil sebagai sosok yang romantis dan sangat lemah lembut terhadap istrinya.
Bahkan beliau menyempatkan waktu bercanda bersama istri, tentu dengan candaan yang tetap penuh adab, kesopanan dan keluhuran akhlak. Sebuah hadits hasan yang diriwayatkan oleh Thabrani menyebutkan bahwa Rasulullah adalah orang yang paling banyak bergurau bersama istri-istrinya.
“Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam adalah orang yang paling banyak bergurau bersama istri-istri beliau.”

Artinya, kala di rumah Nabi tidak sibuk dengan urusan apa pun selain membahagiakan istrinya. Bercanda atau bergurau adalah satu cara ampuh yang digunakan Nabi untuk membahagiakan dan menenangkan hati istrinya.

Suatu saat Aisyah berkata, “Suatu hari Saudah mengunjungi kami, dan Rasulullah duduk di antara diriku dan Saudah. Sedangkan satu kaki beliau berada di pangkuanku dan satunya berada di pangkuan Saudah.

Maka kubawakan untuknya makanan (yang terbuat dari bahan tepung dan air susu) lalu kukatakan, “(Demi Allah), makanlah atau aku akan megotori wajahmu.” Dia lalu menolak dengan berkata, “Aku tak akan mencicipinya.”

Lalu, kuambil makanan dari mangkuk yang besar dan kulumurkan ke wajahnya. Nabi Shallallahu alayhi Wasallam tertawa. Lalu beliau mengangkat kaki belaiu dari pangkuan Saudah, agar ia bisa membalasku. Beliau berkata kepada Saudah, “Kotorilah mukanya!” Lalu dia mengambil makanan dari mangkuk besar dan melumurkannya ke mukaku, dan Rasulullah tertawa.” (HR:  An-Nasa’i).

Dari dua hadits tersebut dapat diambil pemahaman bahwa kala di Rumah Rasulullah selalu meluangkan waktu untuk bercanda atau bersenda gurau dengan istri-istrinya. Rasulullah memang tidak pernah menomorduakan istrinya kala di rumah.
 
Beliau sangat sayang, cinta dan penuh perhatian kepada istri-istrinya. Bahkan beliau tidka pernah dalam sehari pun tidak mencium istrinya. Subhanallah. Jika demikian, masihkah para suami akan mencari kelucuan dalam komedi, sementara bersama istri bisa bergurau bersama yang efeknya tentu sangat menentramkan dan membahagiakan hati


posted by @Adimin

Dari Masjid Kita Selamatkan Anak-anak Kita!

Written By @Adimin on Monday, January 20, 2014 | 7:46 PM

Tentu kita prihatin, hari ini banyak masjid yang kurang berfungsi, kecuali hanya untuk sholat semata. Padahal, masjid bisa menjadi tempat sosialisasi yang terbaik bagi anak-anak



“ANAK-ANAK kaum Muslimin berada dalam bahaya,” ucap seorang ibu dalam sebuah perbincangan ringan usai acara talk show di Depok Jawa Barat.

Seorang ibu yang lainnya pun penasaran, “Bahaya gimana bu?” Ibu yang memulai pembicaraan itu pun menjawab, “Lihat saja anak sekarang, baca Qur’an kurang, sholat masih sulit ditegakkan, ke masjid apalagi. Akhirnya, habis maghrib anak-anak pada asyik nonton TV,” jelasnya dengan mimik serius.*
***
Kegelisahan ibu tadi memang layak kita renungkan. Terlebih jika melihat perkembangan zaman yang kian kurang kondusif bagi terpeliharanya iman pada anak-anak kita.

Selama ini, banyak ulasan tentang mendidik anak sebatas pada teori, metode dan tips bagaimana menjadikan pribadi anak sholeh. Belum ada yang mengurai bagaimana membangun lingkungan anak yang mengantarkan mereka menjadi sholeh dan sholehah.

Padahal, sekuat apa pun keluarga mendidik putra-putrinya dengan bekal iman yang mantap tetapi mereka tidak didukung dengan lingkungan yang positif, kemungkinan tergelincir juga tidak kecil. Hal ini bisa dilihat dari alumnus pondok pesantren yang kemudian hijrah ke kota. Sebagian ada yang telah meninggalkan tradisi penting yang bertahun-tahun dibangun selama di pesantren.

Akan tetapi, kita tidak perlu berdebat pada soal mana yang lebih menentukan, keluarga atau lingkungan. Karena secara fakta pendidkan keluarga yang baik akan semakin bagus jika didukung dengan lingkungan yang baik.

Untuk itu, perlu kiranya para orangtua saat ini untuk bersama-sama berpikir bagaimana membangun lingkungan yang kondusif bagi keimanan dan ketakwaan buah hati kita bersama.


Memakmurkan Masjid

Memakmurkan masjid adalah perkara penting. Mari perhatikan firman Allah ini;

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللّهَ فَعَسَى أُوْلَـئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ الْمُهْتَدِينَ
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. 9: 18).

Jadi, tidak mengherankan, jika pertama kali bangunan yang didirikan Rasulullah adalah masjid. Dari masjid itulah segenap kegiatan keumatan dijalankan. Mulai dari pendidikan, sosial hingga militer. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga Muslim harus bahu membahu memakmurkan masjid.

Dalam konteks pendidikan anak, keluarga Muslim harus memiliki kepedulian dengan masjid sehingga masjid tidak saja menjadi tanggug jawab pengurus dalam hal pemakmurannya. Tetapi semua keluarga di sekitar masjid ikut andil memakmurkannya. Apalagi, secara lingkungan, semua orangtua butuh anak-anaknya cinta ibadah. Jika masjid tidak dimakmurkan, bagaimana hal itu bisa diwujudkan?


Program yang Menarik

Tentu kita prihatin, hari ini banyak masjid yang kurang berfungsi, kecuali hanya untuk sholat semata. Padahal, masjid bisa menjadi tempat sosialisasi yang terbaik bagi anak-anak, tempat pendidikan yang terbaik bagi mereka, bahkan tempat yang paling menyenangkan untuk buah hati kita semua.

Lantas bagaimana jika ternyata masjid tidak menarik bagi kebanyakan anak-anak Muslim di negeri ini? Di sinilah tugas orangtua. Harus ada komunikasi yang baik antar orangtua dan pengurus masjid untuk membuat anak-anak tertarik dengan masjid.

Misalnya dengan mengadakan program dengar kisah Nabi dan Rasul yang dipercayakan kepada orang yang memiliki kemampuan bercerita yang menarik. Atau belajar Al-Qur’an Hadits, Shirah dan semua pelajaran dan pengetahuan  sesuai dengan minat anak-anak masa kini.  

Jadi, bukan saja anak-anak yang datang ke masjid, sekali waktu perlu ada acara pengajian keluarga dimana anak-anak juga ikut di dalamnya.

Program semacam ini sangat penting bagi keluarga Muslim Indonesia, utamanya untuk mencegah anak-anak salah pergaulan. Di samping juga aman dari berbagai gangguan program-program tidak mendidik dari televisi.

Sungguh keindahan luar biasa jika suatu kampung atau RT yang setiap maghrib sampai isya’ seluruh anak-anak dan orangtuanya asyik mengaji di masjid. Jika itu terjadi, maka secara otomatis anak-anak kita akan mencintai dan memakmurkan masjid. Jika demikian, maka insya Allah hidayah akan tertanam kuat di dalam hati mereka.


Sinergi dengan Sekolah  

Para orangtua juga harus melakukan komunikasi strategis dengan pihak sekolah. Di sekolah biasanya ada musholla atau masjid. Tetapi, sepertinya hal itu sebatas pajangan. Saatnyalah para orang mengusulkan kepada sekolah agar masjid bisa difungsikan. Utamanya untuk sholat berjama’ah, pelajaran agama atau pun dalam proses belajar mengajar itu sendiri.

Dengan demikian, insya Allah kenakalan remaja akan sedikit teredam dan lama kelamaan akan bisa diminimalisir bahkan dihilangkan. Sekolah harus membuat masjid dan lingkungan sekitarnya indah dan menarik serta representatif untuk kegiatan belajar mengajar bagi para siswa.

Jam pelajaran pun harus menghormati waktu sholat. Para orangtua harus usul kepada sekolah agar setiap kali adzan dikumandangkan, jam pelajaran bisa dihentikan sementara untuk bersegera sholat berjama’ah. Dengan demikian, religiusitas para siswa bisa tetap terpelihara.

Jadi, mari kta bangun perhatian dan kecintaan kita terhadap masjid. Memakmurkan masjid adalah tanggung jawab setiap Muslim secara ilahiyah. Tetapi itu adalah suatu kebutuhan bagi pendidikan generasi masa depan. Semakin makmur masjid, akan semakin banyak orang ke masjid. Dengan demikian maka secara lingkungan, anak-anak kita akan terjaga iman dan takwanya.

Jadi tunggu apalagi, demi masa depan bangsa dan negara, mari kita bangun lingkungan pendidikan iman dan takwa yang bagus dengan gerakan kembali ke masjid.

Seperti nasehat Sunan Kalijogo dalam satu syair populer yang pernah digubahnya, “Wong kang Sholeh Kumpulono” yang artinya, berkumpullah dengan orang-orang sholeh. Dimana lagi kalau bukan di masjid?*

rol

posted by @Adimin
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PKS Padang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger