Slider

Powered by Blogger.
Latest Post
Showing posts with label HOT. Show all posts
Showing posts with label HOT. Show all posts

Sidak ke Pasar Indarung, Walikota Padang Masuk Selokan

Written By @Adimin on Thursday, November 12, 2015 | 9:25 PM

PADANG (12/11) - Walikota Padang Mahyeldi Dt Marajo melakukan inspeksi mendadak ke Pasar Indarung. Di sini, Walikota Padang masuk selokan dan membersihkan sampah yang menumpuk di dalam selokan tersebut. “Siapa yang membuang sampah ke dalam ini? Sampah ini bisa menjadi penyebab banjir,” tanya Walikota kepada pedagang yang berjualan di dekat selokan tersebut.
Melihat kondisi tersebut, Walikota langsung turun ke beberapa selokan yang dijadikan para pedagang untuk membuang sampah dagangannya. Ia mengeluarkan sampah yang telah menumpuk tersebut. Walikota kembali menegaskan, jika pedagang masih saja membuang sampah ke selokan akan dilarang berjualan di sekitar lokasi itu lagi.
“Ini tak bisa dibiarkan, pedagang harus bertanggung jawab dengan sampahnya. Banjir yang terjadi adalah karena kita tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Mari kita sama-sama menjaga agar sampah yang dihasilkan tak mengganggu lingkungan," ujar beliau.
Dikatakan Walikota, permasalahan sampah di pasar menjadi tanggung jawab petugas pasar dan lurah setempat. Barang dagangan yang ada sampahnya harus dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam karung, tidak dibuang keselokan karena akan menjadi penyebab banjir.
Ia mengatakan, semua pihak perlu saling mengingatkan. Sebab melihat kondisi saat ini, sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Pemerintah Kota Padang per 1 Januari 2015 mulai efektif menerapkan peraturan daerah (Perda) Nomor 12 Tahun 2012 tentang Sampah.
"Bagi yang melanggar dan membuang sampah sembarangan di Kota Padang, diberikan sanksi maksimal Rp 5 juta atau denda tiga bulan kurungan. Kita perlu saling mengingatkan. Termasuk soal sampah yang ada di pasar ini, jika tidak maka banjir ini akan selalu menghantui kita,” ungkapnya.
Peninjauan Pasar Indarung dilakukan disela-sela mengunjungi lokasi banjir dan longsor di Batu Gadang. Dalam kesempatan itu, Walikota didampingi Kepala BPBD Damkar Kota Padang Dedi Henidal, Camat Lubuk Kilangan Syafwan dan Kabag Humas dan Protokol Pemko Padang Mursalim.(Charlie / Yurizal / Tafrizal / Mursalim)

posted by @Adimin

Korupsi karena gaji . . ???

Written By @Adimin on Sunday, October 14, 2012 | 11:04 PM

Baru baru ini wakapolri Nanan Sukarna menyatakan bahwa kepolisian sulit untuk keluar dari kasus kasus korupsi dikarenakan masalah gaji yang kurang mencukupi. Bahkan beliau secara pribadi menyatakan bahwa dirinya juga tidak cukup kalau hanya mengandalkan gaji saja.

Naudzubillah...  mungkin itu yang bisa kita ucapkan jika mencermati pernyataan beliau, mengingat beliau adalah seorang wakapolri yang sejatinya bisa dikatakan mewakili institusi polri. Nanan adalah polisi berpangkat Komisaris Jenderal Polisi atau setingkat dengan Letnan Jenderal yang kita tahu berapa kira kira rata-rata gaji anggota Polisi berpangkat jenderal. Jika kita runut masalah pernyataan beliau, sungguh akan mempunyai dampak dahsyat terhadap para polisi yang notabene adalah anak buah beliau yang tentunya mempunyai gaji jauh lebih rendah dibanding seorang nanan, dimana seorang jenderal polisi tidak cukup hanya dengan mengandalkan gaji saja. Konsekuensinya adalah bagaimana dengan polisi yang berpangkat dibawah wakapolri...???, tentunya akan lebih merasa kekurangan . . . . . !!!!. Kita khawatir justru pernyataan wakapolri ini menjadi pembenaran untuk melakukan korupsi.

Pernyataan beliau bahwa korupsi sangat terkait dengan besar kecilnya gaji sangatlah memprihatinkan, karena sebenarnya menjauhi tindak pidana korupsi bukan semata karena gaji, melainkan mentalitas. Terlalu banyak orang orang yang bergaji pas pasan tetapi sudah merasa cukup sehingga terhindar dari penyakit MENGHALALKAN SEGALA CARA termasuk korupsi.

"Gaji tinggi juga tidak ada jaminan orang terhindar dari korupsi. Yang utama adalah mentalitas untuk menghindari korupsi itu sendiri. 
 
Mudah mudahan mentalitas korupsi ini tidak merupakan penyakit masif yang sudah menyebar diseluruh lapisan birokrasi kita.....  Semoga

posted by Adimin

Liberal yang tidak Liberal

Written By @Adimin on Sunday, August 5, 2012 | 9:01 PM



Semakin hari semakin nyata kejahilan kaum Liberal ini, setelah ocehan si Ulil bahwa umat islam tidak boleh protes terkait apa yg terjadi pada muslim rohingnya karena di sini umat Islam juga tidak sensitif dengan Ahmadiyah. Padahal jika kita kaji lebih jauh maka perbedaan antara peristiwa muslim rohingnya dan ahmadiyah amatlah jauh. 

Ahmadiyah jelas melakukan penodaan agama dan di fonis sesat oleh para ulama, dan meski sesat tidak ada pembantaian terhadap mereka. Sementara muslim rohingnya adalah saudara seiman seaqidah yang hanya karena mereka menuhankan ALLAH, sehingga mereka diburu, diperkosa, dan dibunuh secara masif tanpa ada pembelaan sama sekali. 

Sehingga semakin jelas bagi kita umat Islam, bahwa kaum Liberal ini sebenarnya bukan menjalankan HAM tetapi mereka menjalankan agenda kaum Islamphobia yang berbalut HAM dan Liberalisme, dan agenda komunitas yang bisa memberi mereka pendapatan dan uang masuk. Karena justru mereka melanggar asas liberal itu sendiri dimana unsur kemanusiaan yang lebih didahulukan tanpa memandang SARA.

Kita jadi teringat oleh sebuah hadist yg dirsampaikan oleh Imam Ali :

"Akan muncul suatu kaum di akhir zaman, usia mereka muda-muda, pikiran mereka bodoh-bodoh, mereka mengucapkan sebaik-baik ucapan makhluk, tetapi keimanan mereka tidak melampaui tenggorokan, mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah yang keluar dari busur. Di mana pun kalian menjumpai mereka, bunuhlah mereka, karena pembunuhan mereka itu berpahala pada hari Kiamat bagi yang membunuh mereka.3) 

 3) HR. Bukhari (6930)


posted by Adimin

Liberal VS Rohingnya


 


PADA 28 Juli 2012 dalam akun Twitter nya, Ulil Abshar Abdallah menulis bahwa kalau umat Islam masih menyetujui aniaya Ahmadiyah di Indonesia, maka umat Islam tak layak protes saat umat Muslim Rohingya dianiaya di Myanmar. Ia mengkritik umat Muslim Indonesia yang tidak sensitif terhadap kasus Ahmadiyah, mereka hanya sensitif terhadap umat Islam di Negara lain. [Baca: Ulil: Twit Itu Kritik terhadap 'Teman-teman Muslim]

Inkonsisten
Ulil sendiri, bergeming soal tragedi kemanusiaan yang menimpa umat Islam di Myanmar. Tidak selantang ketika membela agama Ahmadiyah. Artinya, kicauan di Twitter nya itu justruf tidak sesuai dengan idelisme yang ia lontarkan ketika mengkritik kelompok yang ia sebut ‘teman-teman Muslim’ Indonesia.

Buktinya, ia mengkritik kaum Muslim Indonesia yang hanya sensitif terhadap kasus aniaya Muslim di Negara lain, namun tidak senstitif terhadap aniaya Ahmadiyah di negeri sendiri. Padahal Ulil sendiri tidak menunjukkan aksi solidaritas yang sesungguhnya terhadap nasib Muslim Rohingya. Sikap ini menunjukkan inkonsistensi Ulil sendiri. Ulil hanya sensitif terhadap kasus Ahmadiyah di dalam negeri tapi tidak sensitif terhadap kekerasan yang dialami Muslim Rohingya.


Sampai kini, Ulil tidak menunjukkan sikap dan pernyataan tegas terhadap pembantaian yang dilakukan pemerintah Junta Militer Myanmar. Sama sekali tidak ada aksi demo di jalan memprotes keras terhadap Myanmar.

Padahal, bebarapa waktu lalu Ulil membela mati-matian pelaku homoseks dan lesbian dengan turun ke jalan, agar kaum homoseks diberi kebebasan atas orientasi seksualnya. Jika Ulil konsisten dengan kicauannya di twitter, harusnya dia juga turun ke jalan bersama umat Islam lainnya memprotes penindasan terhadap Muslim Rohingya. Padahal tragedi Rohingnya sangat menyedihkan.
Jika tidak turun ke jalan, Ulil cukup menyuarakan solidaritas dengan melakukan usulan-usulan politik ke pemerintah Indonesia untuk segera mengambil langkah diplomatis menghentikan pembantaian di Myanmar. Tapi adakah suara Ulil seperti itu?

Tidak Adil
Sikap inkonsisten juga menunjukkan sikap berat sebelah dalam menilai praktik HAM. Meski beberapa media dan politikus Indonesia mulai bersuara, Ulil dan kawan-kawan di Jaringan Islam Liberal (JIL) serta LSM HAM masih belum bersuara lantang.

Jika dibandingkan dengan kasus Ahmadiyah, aktivis Islam Liberal dan LSM liberal ngotot kepada pemerintah agar warga Ahmadiyah diberi kebebasan. Padahal, Ahmadiyah melakukan penodaan terhadap ajaran Islam. Jika merujuk kepada undang-undang Negara, agama Ahmadiyah telah melakukan pelanggaran HAM umat Islam. Mereka menodai ajaran suci dengan menambah keyakinan bahwa Ghulam Ahmad adalah seorang Nabi.


Namun, bagi Ulil dan kawan-kawan, Ahmadiyah yang menodai Islam, justru dibela. Muslim Rohingnya di Myanmar yang jelas-jelas dibantai tentara pemerintah tidak mendapatkan pembelaan seperti pembelaannya terhadap Ahmadiyah.

Umat Islam Indonesia pun juga tidak melakukan pembantaian terhadap warga Ahmadiyah ataupun sampai memperkosa para wanita pengikut Ahmadiyah. Kaum Muslim hanya meluruskan penyimpangan yang mereka lakukan. Dan menawarkan opsi untuk menyatakan diri sebagai pengikut agama Ahmadiyah, di luar Islam. Jika terjadi kasus kekerasan, itu adalah reaksi spontan masyarakat bawah atas penistaan yang dilkukan Ahmadiyah, karena provokasi Ahmadiyah sendiri dan tidak tegasnya pemerintah melindungi keyakinan umat Islam dari penodaan mereka.

Bandingkan dengan yang terjadi terhadap Muslim Rohingya. Mereka dibantai dan dianiaya secara sistematis soleh militer pemerintah. Muslim Rohingnya juga tidak melakukan penghinaan terhadap pemerintah. Mereka dibantai hanya karena pemerintah phobi terhadap Muslim.

Rohingya merupakan etnis yang tinggal di Provinsi Arakan, Myanmar Barat. Populasinya mencapai satu juta jiwa, dan dalam catatan sejarah mereka telah ada sejak abad ke-7 M -- jauh sebelum Myanmar merdeka pada 1948.
Sejak awal merdeka, etnis Rohingnya mengalami kekerasan, disksriminasi dan pemiskinan oleh pemerintah dan mayoritas rakyat yang beragama Budha. Mereka dituduh bukan etnis Myanmar asli, sehingga tidak diakui sebagai warga Negara Myanmar. Padahal, bersama 136 etnis lainnya, mereka telah mendiami negeri itu jauh sebelemu Myanmar merdeka.

Selama beberapa dekade, mereka ditindas yang menyebabkan puluhan ribu tewas, tempat tinggal dibakar, wanitanya diperkosa, dan diusir dari negaranya. Mereka dikejar-kejar di mana pun mereka lari -- seperti warga yang tidak memiliki hak kewarganegaraan. Negara-negara ASEAN sendiri, termasuk Indonesia tidak  memberi suaka politik. Tidak ada alasan rasional mengapa mereka dianiaya sedemikian kejinya. Etnis mayoritas benci hanya karena etnis Rohingya Muslim.

Menodai HAM
Pernyataan Ulil seperti tersebut di atas, tidak hanya menyakiti hati kaum Muslimin sedunia, tapi juga menodai diktum HAM sedunia.
Tindakan pengusiran, pembakaran kampung halaman, pemerkosaan terhadap wanita dan pembantaian secara keji yang dialami Muslim Rohingya termasuk penggaran berat HAM. Pelakunya harus diadukan kepada peradilan Internasional PBB.

Dalam deklarasi universal pada 1948 ditulis bahwa badan HAM sedunia didirikan untuk menegakkan keadilan, kedamaian dan hak asasi manusia warga Negara dunia. Jika sekarang hak-hak Muslim Rohingnya dirampas, maka mereka harus dibela.

Pembiaran dan sikap bergeming terhadap tragedi ini jelas menyalahi diktum deklarasi universal HAM sedunia. Apalagi membuat pernyataan menyakitkan, jelas-jelas ini menodai Hak Asasi Manusia (HAM).
Pandangan Ulil yang mengkritik umat Muslim sama sekali bukan sikap yang didasarkan atas HAM yang selama ini perjuangkan. Pernyataan menyakitkan Ulil justru menista HAM warga Rohingya. Jika memang pejuang sejati HAM, harusnya ia beritindak tegas, bukan mengkritik kaum Muslim dengan membanding-bandingkan dengan kasus Ahmadiyah.

Etnis minoritas Rohingya yang harus mendapatkan pembelaan, bukan pernyataan kritis terhadap kaum Muslim. Jika Muslim Rohingya membaca kicauan Ulil, mereka pasti sakit hati. Pernyataan Ulil hanya akan menambah sakit saudara Muslim Rohingya.

Sikap seperti Ulil, hanya didasarkan atas ketidasukaan terhadap kaum Muslim Indonesia, bukan atas landasan HAM dan demokrasi. Adagium membela HAM dan demokrasi yang selama ini diperjuangkan hanyalah ilusi, jika warga minoritas Rohingya didiamkan, atau karena memang tidak ana nilai jualnya....???


posted by Adimin

Ada Apa dengan Jokowi...???

Written By @Adimin on Monday, July 16, 2012 | 1:05 AM



Kemenangan Jokowi menyisakan berjuta analisa, baik dari analisa politik sosial maupun kekinian. Tokoh sekaliber Hidayat Nur wahid saja ternyata tidak banyak memikat masyarakat Jakarta yang nota bene adalah salahsatu kota basis PKS dan kota yang selalu menjadi barometer politik ke depan.  Ada beberapa analisis yang perlu kita jadikan cermin mengapa kemenangan Jokowi menjadi fenomenal.

Dari data yang bisa ambil kita dari beberapa media, ternyata selama memimpin kota Solo, Jokowi ternyata tidak pernah menikmati gajinya yang notabene halal dan sudah menjadi haknya untuk menerima gaji sebagai walikota Solo.  Dari sisi ini, publik Solo menilai ternyata masih ada orang orang yang mempunyai sense of crisis terhadap kondisi rakyat kebanyakan, meskipun dilakukan dengan cara defensif yaitu dengan cara tidak menerima gaji. Jokowi juga terkenal sangat sederhana dalam berpenampilan dan berkomunikasi dengan siapa saja, kesederhanaan adalah hal yang jarang terjadi, jika kita menilik dan membandingkan dengan banyak pejabat pejabat publik di negeri ini. Dan ini mestinya juga menjadi cerminan bagi yang mengaku sebagai partai dakwah yang sebagian pemimpinnya berpenampilan wah, meskipun mereka bergaya seperti itu menggunakan  argumentasi "menyesuaikan medan dakwah". Tidakkah kesederhanaan Nabi, Sahabat, dan Tabiin, selagi mereka menjadi pejabat publik bisa kita jadikan Ibroh, dan tidakkah kemenangan Moursi beserta kesederhanaannya tidak bisa kita jadikan inspirasi bagi partai dakwah ini.....???

Dan juga ternyata Jokowi senantiasa dekat dan membaur dengan rakyat Solo. Sekat sekat birokrasi dia singkirkan untuk bisa lebih mendengarkan langsung suara suara dari rakyat kecil dan terbukti Jokowi sangat dicintai oleh sebagian besar masyarakat Solo. JOKOWI, salah satu yg berani BERBEDA. Tak menerima gaji, tdk suka protokler & membaur dgn rakyat. Dari dua poin ini bisa kita tarik benang merah, ternyata Bersih dan Peduli saja tidak cukup untuk meyakinkan masyarakat, apalagi masyarakat yang lumayan berpendidikan seperti Jakarta, perlu nilai lebih dari seorang pemimpin yaitu Program yang jelas dan tindakan nyata.

Mudah mudahan kemenangan Moursi dan Jokowi bisa menjadi ibroh bagi kita selaku partai dakwah. Kemenangan dan kekalahan dalam Pilkada BUKAN- LAH kemenangan atau kekalahan dakwah. Dakwah menang jika makin banyak yg MENYEMBAH/TAAT pada Allah SWT
Hasil Pemilukada DKI semestinya menjadi umpan balik bagi PKS. "Agar PKS segera berbenah dalam menyambut Pemilu 2014.  ALLAHU AKBAR 

Adimin 

posted by Adimin

Dan Qur'an pun dikorupsi . . . . . .

Written By @Adimin on Tuesday, July 3, 2012 | 9:59 PM



Gila, sungguh fantastis . . . . . hanya kata kata itu yang bisa terucap mendengar berita di berbagai media massa yang dengan gegap gempita menyiarkan tentang Korupsi Pengadaan Al qur'an. Kita selaku masyarakat biasa sudah terlalu muak dengan berita berita korupsi yang ada dinegeri ini, dan yang lebih membuat hati teriris adalah simbol simbol agama seperti alqur'an yang sarat dengan nilai nilai kebaikan juga di korupsi oleh mereka yang sudah mati hati nuraninya.

Tidak salahpula jika orang awam berceloteh "lembaga lembaga agama saja melakukan korupsi apalagi lembaga lembaga lain . . . . "

Mereka pejabat pejabat publik yang punya latarbelakang pendidikan agama atau mempunyai simbol-simbol agama yang seharusnya menjadi pengusung nilai-nilai kebaikan universal justru malah menjadi koruptor itu sendiri, tidak salah memang jika salah seorang ulama bangsa ini mengatakan "negeri ini hanya menunggu nunggu datangnya adzab yang besar dari ALLAH SWT . . . . . . . ."


وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا [١٧:١٦]

dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya Berlaku terhadapnya Perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS Al Isra 16)





posted by Adimin
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PKS Padang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger